Posts Tagged ‘ laris manis ’

Bebek Sinjay

Minggu lalu saya dan seorang rekan kerja saya mendapat tugas dinas ke daerah Gresik dan Surabaya. Sebelum pulang, kami menyempatkan diri menyeberang menikmati jembatan Suramadu, sekaligus “mengintip” Madura. Untuk menyeberang, kami diharuskan merogoh kocek Rp. 60.000,- untuk biaya tol pulang-pergi. Berdasarkan rekomendasi dari sang driver yang menemani kami, kami dihantarnya berwisata kuliner Bebek Sinjay. Menurut sang driver, bebek Sinjay tersohor di daerah Jawa Timur. Saat kami tiba di lokasi yang dituju, kami cukup kaget melihat lokasi parkiran yang begitu ramai. Kami diarahkan oleh tukang parkirnya menuju parkir belakang. Di situ berjajar sekitar 20-30 mobil (ada 2 sisi parkiran dengan sekitar 10-15 mobil di masing-masing sisi). Sebelum masuk, saya pribadi sempat bertanya-tanya, seperti apa di dalam hingga banyak orang berbondong-bondong ke tempat ini.

Bagi para pecinta pedas dan penggemar masakan berbahan dasar bebek, bebek Sinjay patut dicoba. Sekilas dari penampakannya, bebek Sinjay tampak “biasa saja”, yaitu masakan bebek yang dihidangkan di atas piring dengan hiasan/pelengkap potongan mentimun dan daun kemangi. Namun ketika coba disantap, seeeppz mantap. Sambalnya yang berupa sambal pencit (sambal dengan irisan mangga muda) punya cita rasa pedas yang khas. Dagingnya cukup empuk dan nasinya juga cukup pulen, menjadi penambah nikmat ketika disantap. Kami hanya mengeluarkan uang sebesar Rp. 45.000,- untuk 3 porsi bebek Sinjay dan 3 botol air mineral. Patokan harga yang cukup murah. Konon per hari, warung makan ini mampu menghabiskan minimal  500 ekor bebek atau setara dengan 4.000 porsi. Itu artinya omzetnya puluhan juta rupiah dalam waktu satu hari. Suatu pencapaian yang luar biasa untuk kategori bisnis penjualan masakan. Terhubungnya Madura dengan Surabaya nampaknya menjadi salah satu pemicu bebek Sinjay laris manis bak dirubung semut.

Hal unik yang akan kita lihat ketika mengunjungi bebek Sinjay adalah cara pemesanannya. Sebelum memesan menu, kita harus mengantri untuk mendapatkan nota pesanan sekaligus melakukan pembayaran tunai. Setelah itu kita baru bisa mengantri untuk menukar nota pesanan dengan bebek Sinjay. Memang cukup merepotkan. Tapi mungkin itulah salah satu kenikmatannya.

Soal cita rasa, layak diadu dengan bebek H. Slamet atau bebek Sangan Pak Ndut. Namun kalau dibandingkan dari pedasnya, bebek Sinjay masih kalah pedas dari bebek H. Slamet.

Bagi Sahabat yang berkunjung ke Surabaya, coba sempatkan diri untuk menyeberang jembatan Suramadu, mencicipi lezatnya bebek Sinjay. Agar kita tahu bahwa brand Madura ternyata bukan hanya sate dan besi rongsokan, tapi juga masakan bebek. 🙂