Bhineka Tunggal Ika? Masih dan terus dunk..

Masih teringat pemberitaan di telivisi dan surat kabar mengenai pencabutan IMB suatu tempat ibadah di Bogor, dimana salah satu alasannya adalah nama jalan yang karena identik dengan salah satu agama sehingga tidak boleh dibangun tempat ibadah dari agama lain di sepanjang jalan tersebut. Itu baru nama jalan, bagaimana jika dibangun bersebelahan. Agama seperti menjadi suatu hal yang sensitif.

Pemandangan lain justru saya lihat ketika saya melakukan perjalanan dinas ke Sulawesi, ke salah satu Unit Bisnis perusahaan tempat saya bekerja. Di kompleks perumahan milik perusahaan tempat saya bekerja tersebut berdiri 4 tempat ibadah dari agama yang berbeda yang jaraknya berdekatan satu sama lain (cukup menghentakan kaki “beberapa” langkah). Ya, masjid, gereja protestan, pura, dan gereja katholik bersahabat. Hati saya bersukacita dan menjadi tenang. Tidak seperti pemberitaan yang sering saya dengar, lagi-lagi saya mendapatkan bukti bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa yang berusaha terus menghargai keberagamannya.

Berikut adalah gambar yang sempat saya abadikan :

Masjid Jami Nurul Iman

Gereja Protestan Sultra (Gepsultra)

Pura Giri Bhuwana

Gereja Katholik

Bentor

Bentor (becak motor), oleh-oleh saya dari perjalanan dinas ke daerah Halmahera Timur pekan lalu. Ndak banyak yang mau saya katakan. Becak mewah, tarif murah, keren atas bawah, mengantar dari omah ke omah, enak kali ya kalau naik sambil makan blewah. hehe. 😀

Bebek Sinjay

Minggu lalu saya dan seorang rekan kerja saya mendapat tugas dinas ke daerah Gresik dan Surabaya. Sebelum pulang, kami menyempatkan diri menyeberang menikmati jembatan Suramadu, sekaligus “mengintip” Madura. Untuk menyeberang, kami diharuskan merogoh kocek Rp. 60.000,- untuk biaya tol pulang-pergi. Berdasarkan rekomendasi dari sang driver yang menemani kami, kami dihantarnya berwisata kuliner Bebek Sinjay. Menurut sang driver, bebek Sinjay tersohor di daerah Jawa Timur. Saat kami tiba di lokasi yang dituju, kami cukup kaget melihat lokasi parkiran yang begitu ramai. Kami diarahkan oleh tukang parkirnya menuju parkir belakang. Di situ berjajar sekitar 20-30 mobil (ada 2 sisi parkiran dengan sekitar 10-15 mobil di masing-masing sisi). Sebelum masuk, saya pribadi sempat bertanya-tanya, seperti apa di dalam hingga banyak orang berbondong-bondong ke tempat ini.

Bagi para pecinta pedas dan penggemar masakan berbahan dasar bebek, bebek Sinjay patut dicoba. Sekilas dari penampakannya, bebek Sinjay tampak “biasa saja”, yaitu masakan bebek yang dihidangkan di atas piring dengan hiasan/pelengkap potongan mentimun dan daun kemangi. Namun ketika coba disantap, seeeppz mantap. Sambalnya yang berupa sambal pencit (sambal dengan irisan mangga muda) punya cita rasa pedas yang khas. Dagingnya cukup empuk dan nasinya juga cukup pulen, menjadi penambah nikmat ketika disantap. Kami hanya mengeluarkan uang sebesar Rp. 45.000,- untuk 3 porsi bebek Sinjay dan 3 botol air mineral. Patokan harga yang cukup murah. Konon per hari, warung makan ini mampu menghabiskan minimal  500 ekor bebek atau setara dengan 4.000 porsi. Itu artinya omzetnya puluhan juta rupiah dalam waktu satu hari. Suatu pencapaian yang luar biasa untuk kategori bisnis penjualan masakan. Terhubungnya Madura dengan Surabaya nampaknya menjadi salah satu pemicu bebek Sinjay laris manis bak dirubung semut.

Hal unik yang akan kita lihat ketika mengunjungi bebek Sinjay adalah cara pemesanannya. Sebelum memesan menu, kita harus mengantri untuk mendapatkan nota pesanan sekaligus melakukan pembayaran tunai. Setelah itu kita baru bisa mengantri untuk menukar nota pesanan dengan bebek Sinjay. Memang cukup merepotkan. Tapi mungkin itulah salah satu kenikmatannya.

Soal cita rasa, layak diadu dengan bebek H. Slamet atau bebek Sangan Pak Ndut. Namun kalau dibandingkan dari pedasnya, bebek Sinjay masih kalah pedas dari bebek H. Slamet.

Bagi Sahabat yang berkunjung ke Surabaya, coba sempatkan diri untuk menyeberang jembatan Suramadu, mencicipi lezatnya bebek Sinjay. Agar kita tahu bahwa brand Madura ternyata bukan hanya sate dan besi rongsokan, tapi juga masakan bebek. 🙂

Cerita Gambar..

Ingin bercerita lewat gambar.. Ini ceritaku.. Mana ceritamu?

Untuk Tuhan, Bangsa, dan Almamater

image

Siang ini saya berkesempatan berkunjung ke kampus ganesha. Berawal dari temu janji dengan rekan kerja (mengambil GPS untuk keperluan di lapangan), berlanjut dengan napak tilas di Sabuga. Ada pemandangan istimewa di Sabuga hari ini. Ya, hari ini merupakan hari wisuda bagi mahasiswa kampus ganesha. Momen ini tentu saja mengingatkan saya akan peristiwa serupa di tempat yang sama 3 tahun silam. Momen dimana mahasiswa mengukuhkan dirinya sebagai sarjana dan momen dimana orang tua berbahagia akan keberhasilan anaknya. Namun lebih dari itu, ini merupakan momen dimana kampus mengutus sarjananya untuk berkarya demi Tuhan, Bangsa, dan Almamaternya. Sebuah mandat yang besar. Kiranya sungguh sarjana baru dapat memaknai itu. Dan tidak hanya sarjana baru, alumni pun yang mungkin sudah tahunan dan bahkan belasan/puluhan tahun meninggalkan dunia kampus sudah sepatutnya untuk tetap mengingat dan memaknainya. Berikut adalah pengutusan sarjana kampus ganesha yang sering kita kenal dengan Janji Lulusan ITB :

Janji Lulusan ITB
Kami
Segenap lulusan
Institut Teknologi Bandung
Demi Ibu Pertiwi berjanji
Akan mengabdikan ilmu pengetahuan
Bagi kesejahteraan bangsa Indonesia
Perikemanusiaan dan perdamaian dunia
Kami berjanji akan mengabdikan
Segala kebajikan ilmu pengetahuan
Untuk menghantarkan bangsa Indonesia
Ke pintu gerbang masyarakat adil dan makmur
Yang berdasarkan pancasila
Kami berjanji akan tetap setia
Kepada watak pembangunan kesarjanaan Indonesia
Dan menjunjung tinggi susila sarjana,
Kejujuran serta keluhuran ilmu pengetahuan
Di manapun kami berada
Kami berjanji
Akan senantiasa menjunjung tinggi
Nama baik almamater kami
Institut Teknologi Bandung
Serta bangsa dan Negara kami
Republik Indonesia

Jas Merah

Jas Merah, Jangan Sekali-kali Melupakan Sejarah. Sebuah ungkapan yang menarik mengingat hari ini adalah hari peringatan Sumpah Pemuda. Melihat tayangan berita di televisi siang ini mengenai hari peringatan Sumpah Pemuda, betapa banyak generasi muda yang lupa akan sejarah. Ironisnya justru ini terjadi di kalangan pelajar yang notabene mengecap pelajaran sejarah di sekolah. Saya bersyukur ketika mencoba mengingatnya, saya masih ingat semua isi Sumpah Pemuda dan juga tanggal-bulan-tahunnya. Semoga saya benar-benar mengingat sejarah dan memaknainya.

Sumpah Pemuda (Jakarta, 28 Oktober 1928)

  1. Kami putera dan puteri Indonesia, mengaku bertumpah darah yang satu, tanah air Indonesia.
  2. Kami putera dan puteri Indonesia, mengaku berbangsa yang satu, bangsa Indonesia.
  3. Kami putera dan puteri Indonesia, menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia.

Jakarta Race 2011

Yesterday I participated at the Jakarta Race 2011. It is an annual program (charity and running) that started since six years ago. The background of this program is the commitment of the people in cancer prevention, education and counseling, and funding program for the treatment of unable patients through the Indonesian Cancer Foundation. At the Jakarta Race 2011, there are two route options that can be taken (5 km and 10 km). This event was attended by thousands of people (but I don’t know the exact number). Wew, woo, unexpected, there are Agni Pratistha, Sigi Wimala, and Melanie Putria who joined the event (we are together at the start line). Run, run, and run. A pleasure when the sweat dripping. After following the route, I finally reached the finish line, I immediately relax and enjoy snacks that is provided by the committee. After that, I enjoy the entertainment that is livened by Hedi Yunus, Yuke, Inong, Andi Rif, Nuckie, and Bubu-Giri.Here are some information about the Jakarta Race :

The History. The Charity Run began in 1981 when Isadore Sharp, Founder and CEO of made a corporate commitment to lead the charge against cancer. Since then , each year, there has been a run held at every Four Seasons Hotel & Resort around the world to raise funds for cancer research and finding cure. This commitment has no geographic boundaries and the sky is only limited by our dreams. This year Four Seasons will host runs at over 75 properties in 31 countries. This popular event is back and deserves the full support of the entire community that will also appeal to the hearts of runners everywhere. The challenge this year will be to raise the bar one notch higher and make it the best and friendliest fun run ever. All proceeds raised from JAKARTA RACE 2011 will be donated to Indonesian Cancer Foundation for direct patient support, cancer education and prevention.

Race for Society. The Indonesian Cancer Foundation is a non govermental organization (NGO) which depends on the support and assistance from the community and other cancer related institutions. Our goal is to achieve optimum cancer control throughout the country. The Indonesian Cancer Foundation’s mission is to reduce the burden of cancer patients to a minimum and to organize programs through community participation and cooperation with other cancer related institutions. Today, the ICF operates in all provinces of Indonesia.