Archive for the ‘ Reflection ’ Category

Pikulan Pisang

Ah, pagi ini saya sampai di kantor dengan perasaan menyesal. Sewaktu saya menunggu angkot di jalan untuk berangkat ke kantor pagi ini, lewat seorang bapak tua membawa 2 buah keranjang dalam pikulan. Bapak itu sudah tua, berjalan dengan sangat lambat (baca sekali lagi : sangat lambat). Sewaktu bapak tua itu lewat di depan saya, tampak keranjang yang dipikulnya adalah dagangan buah pisang. Selain buah pisang, ada tas plastik/kresek dan neonapacin di dalamnya. Ah, bukannya itu obat sesak nafas pikir saya. Untuk apa, tanya saya dalam hati. Bapak tua itu terus berjalan. Lambat namun pasti langkahnya terus menjauh dari saya. Sekian detik sempat berpikir, kenapa bapak tua itu masih bekerja, sepatutnya saat ini dia menikmati masa tuanya. Hal baik apa yang bisa saya lakukan untuk bapak tua itu. Sempat berpikir, ingin membeli buah pisangnya kemudian membawanya ke kantor untuk teman-teman saya di kantor. Namun situasi terburu-buru berangkat ke kantor dan rasa malas/enggan melangkahkan kaki mengejar si bapak tua walaupun jaraknya hanya beberapa belas meter membuat saya hanya berdiri di tempat melihat si bapak tua terus berjalan pelan menjauhi saya. Di saat saya masih berpikir, angkot pun datang. Saya melangkah menaikinya. Angkot pun berjalan dengan kencang. Ketika jarak sudah cukup jauh dan tidak memungkinkan balik lagi, baru saya berkata dalam hati, saya ingin membelinya, kenapa tidak saya beli buah pisangnya, hal yang sangat simple tapi akan sangat membantu si bapak tua. Ah, Widy, begitu banyaknya pertimbanganmu ketika mau memberi/menolong seseorang. Padahal memberi/menolong itu juga suatu kesempatan. Tidak setiap saat kita punya kesempatan untuk bisa memberi/menolong seseorang. Makanya ketika kesempatan itu datang dan kita mampu memberi, berilah tanpa berpikir a, b, dan c atau bahkan sampai z. Semoga saya bisa belajar akan hal ini.

Iklan

Tempe dan Cabe Rawit

image

Sore ini, selepas pulang kantor, saya menyempatkan diri untuk jalan-jalan di daerah Pasar Minggu untuk membeli tempe dan cabe rawit. Ya, tempe dan cabe rawit adalah bahan dasar untuk membuat “uleg-uleg”, makanan favorit saya sejak kecil. Bagi yang belum pernah mencicipinya, saya kasih sedikit bocoran, “uleg-uleg” adalah masakan berbahan dasar tempe yang diuleg dengan cabe rawit dan bumbu dasar, rasanya pedes maknyoss.
Ada kejadian menarik ketika saya membeli tempe di Pasar Minggu. Saya bertanya kepada penjualnya, “berapa harga 1 potong panjang tempe ini Bu?” Si penjual menjawab, “Rp. 3.000,-“. Wah, sangat murah menurut saya harga Rp. 3.000,- untuk 1 potong besar tempe berbentuk memanjang, mengingat hari minggu lalu saya baru saja membeli 1 potong kecil tempe seharga Rp. 4.000,- yang ukurannya tidak ada setengah dari tempe yang akan saya beli. Langsung saja saya bayar tempenya tanpa menawar-nawar. Yang menarik, di kala saya mengambil uang Rp. 3.000,- untuk dibayarkan, tiba-tiba datang seorang Ibu hendak membeli tempe juga. Si Ibu langsung menawar kepada si penjual. Dan terjadilah tawar menawar harga. Tidak ada yang salah memang dari peristiwa tersebut. Namun yang menjadi bahan perenungan kita bersama adalah betapa kita sering kali lebih  menyayangi si kaya dari pada si miskin. Kita dapat dengan mudah tanpa pikir panjang membeli sepotong pakaian seharga Rp. 300.000,- di mall. Namun di lain pihak, kita dapat dengan tega menawar habis-habisan barang yang dijual pedagang kecil, yang menjual barangnya dengan harga hanya sekian ribu rupiah. Tak jarang perdebatan rela dilakukan demi menurunkan harga sekian ratus rupiah. Apakah kita bangga ketika dapat membeli tempe atau cabe yang mampu kita tawar dengan harga yang sangat murah? Apakah kita senang ketika pedagang emperan itu hanya mendapat untung kecil ketika barang dagangannya dijual dengan sangat murah? Apakah kita menjadi kaya raya ketika mampu menawar dan berhemat sekian ratus rupiah? Seharusnya, jawabannya adalah tidak.

Jas Merah

Jas Merah, Jangan Sekali-kali Melupakan Sejarah. Sebuah ungkapan yang menarik mengingat hari ini adalah hari peringatan Sumpah Pemuda. Melihat tayangan berita di televisi siang ini mengenai hari peringatan Sumpah Pemuda, betapa banyak generasi muda yang lupa akan sejarah. Ironisnya justru ini terjadi di kalangan pelajar yang notabene mengecap pelajaran sejarah di sekolah. Saya bersyukur ketika mencoba mengingatnya, saya masih ingat semua isi Sumpah Pemuda dan juga tanggal-bulan-tahunnya. Semoga saya benar-benar mengingat sejarah dan memaknainya.

Sumpah Pemuda (Jakarta, 28 Oktober 1928)

  1. Kami putera dan puteri Indonesia, mengaku bertumpah darah yang satu, tanah air Indonesia.
  2. Kami putera dan puteri Indonesia, mengaku berbangsa yang satu, bangsa Indonesia.
  3. Kami putera dan puteri Indonesia, menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia.

Cermin yang Pecah

Robert Schuller dalam buku Kisah Kasih Allah bercerita tentang sebuah karya mozaik di istana kerajaan Teheran. Karya mozaik itu adalah salah satu karya terindah di dunia. Namun, siapa menduga bahwa mozaik itu terbuat dari sebuah cermin pecah. Mulanya, seorang arsitek memesan cermin dari Paris untuk dipasang di tembok istana. Ketika pesanan itu datang, alangkah kecewanya mereka karena cermin itu sudah pecah. Sang kontraktor bermaksud membuang pecahan cermin itu, tetapi si arsitek justru menggunakan pecahan-pecahan cermin itu untuk membuat mozaik indah yang terdiri dari serpihan kaca yang berwarna perak, berkilau, dan memendarkan cahaya.

Setiap kita pernah membuat kesalahan pada masa lalu. Bahkan mungkin, kita punya masa lalu yang begitu kelam. Mungkin kita merasa hidup kita sudah hancur. Namun, kisah di atas mengingatkan kita bahwa Tuhan sanggup mengubah hidup yang hancur sekalipun, menjadi baru. Seperti apa pun hidup kita, jika dibawa ke hadapan-Nya, akan diubah menjadi karya seni yang indah dan berharga.

Dikutip dari : e-Renungan Harian (13 Juli 2010)

Batu Besar dan Batu Kecil

Ada hal menarik ketika saya tugas dinas ke lapangan bersama seorang senior geologist minggu lalu. Kami berdua (dengan ditemani 1 orang warga setempat) mencoba menapaki dari sisi ke sisi sungai kering yang mempunyai topografi relatif tidak rata dan cukup sulit untuk dilewati karena terdapat batu-batu besar. Pengalaman bertahun-tahun menjadikan sang bapak senior geologist mampu dengan mudah melewati rintangan-rintangan yang ada. Namun siapa sangka, ketika sore harinya kami berjalan melewati jalanan kebun teh yang cukup datar, sang bapak senior geologist tiba-tiba terjatuh. Batu kecil yang tertancap menonjol tidak lebih dari 1 cm ternyata mampu menjatuhkan bapak senior geologist. Ya, betul kata orang, bukan batu besar segunung yang membuat kita terjatuh. Namun justru batu kecil yang kita anggap remeh yang membuat kita terjatuh. Sama halnya dengan kehidupan kita, terkadang hal kecil yang kita anggap remeh justru mampu menghancurkan diri kita. Pasang mata dan berjalanlah dengan hati-hati kawan.

Masih Ingatkah Kita dengan Pancasila? :-)

Sembari menikmati santap siang, saya mencoba melontarkan sebuah pertanyaan yang sama kepada beberapa rekan kerja satu ruangan. “Apa bunyi sila ke-4 dari Pancasila?”

“Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan”.

Wew, saya cukup bersyukur karena rekan-rekan saya ternyata masih hafal dengan Pancasila (walaupun ada juga rekan yang sedikit lama menyebutkannya karena harus mengurutkannya satu persatu dari sila pertama). Yaa, Pancasila merupakan 1 dari 4 pilar bangsa Indonesia (Negara Kesatuan RI (NKRI), Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, dan UUD 1945).

Berikut adalah sila-sila dalam Pancasila :

  1. Ketuhanan yang Maha Esa.
  2. Kemanusiaan yang Adil dan Beradab.
  3. Persatuan Indonesia.
  4. Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan.
  5. Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia.

Menurut saya, Pancasila tidak hanya sekedar untuk dihafal. Melainkan lebih ke arah bagaimana kita dapat memahaminya. Memahami bagaimana bangsa ini berdiri dengan berlandaskan kecintaan akan Tuhan, rasa kemanusiaan antar satu dengan yang lainnya, jiwa persatuan, semangat kerakyatan, dan semangat untuk menegakkan keadilan sosial. Semoga setiap kita dapat memahaminya. J

Istiqlal sahabat Khatedral (Bhineka Tunggal Ika)

Indonesia adalah negara Bhineka Tunggal Ika. Ada berbagai macam keragaman di dalamnya. Agama adalah salah satu keragaman yang cukup kentara di negeri kita. Walaupun berbeda, keragaman ini bukanlah menjadi suatu alat untuk memecah belah bangsa ini. Justru lewat keragaman inilah kita boleh semakin diperkaya dan tetap disatukan. Pada foto tampak gambar sebuah keluarga (ayah, ibu, dan anaknya) yang baru saja selesai ibadah sholat di masjid Istiqlal dan sedang berjalan di pelataran masjid Istiqlal. Tampak juga pada foto gambar gereja Khatedral yang berdiri megah di depan pintu masuk masjid Istiqlal. Ya, masjid dan gereja saling berdekatan dan berhadapan. Mereka bersahabat. Bukankah itu sebagai bukti nyata bahwa bangsa kita adalah bangsa yang memandang keragaman sebagai suatu kekayaan dan bukan sebagai pemecah belah? Bhineka Tunggal Ika, berbeda-beda tetapi tetap satu jua. Jaya Indonesiaku.

n.b.

Judul Foto                       : Istiqlal sahabat Khatedral (Bhineka Tunggal Ika)

Lokasi                             : Pelataran Masjid Istiqlal dengan view Gereja Khatedral

Tanggal Pemotretan       : Minggu, 10 October 2010

Fotografer                       : Widya Taruko