Arsip untuk Juni, 2010

Aku Bisa Terbang, Ayah..

Suatu ketika ada seorang anak laki-laki yang dibesarkan di panti asuhan. Anak ini menyimpan keinginan untuk dapat terbang seperti burung. Di dalam hati ia selalu bertanya-tanya mengapa ia tidak bisa terbang seperti halnya burung. Di kebun binatang, anak laki-laki itu melihat burung-burung yang lebih besar dari pada tubuhnya. Akan tetapi mengapa mereka bisa terbang? “Mengapa aku tidak bisa terbang? Apakah yang salah dalam diriku?” anak laki-laki itu bertanya dalam hatinya.

Ada lagi anak laki-laki lain yang kakinya pincang. Anak ini ingin sekali agar ia bisa berjalan dan berlari seperti anak-anak lainnya. “Bagaimana agar aku bisa seperti mereka?” tanyanya dalam hati. Suatu hari, anak laki-laki yang ingin terbang tadi, bermain jauh dari panti asuhan. Ia datang ke sebuah taman dimana ia melihat anak laki-laki yang pincang tadi sedang bermain di dalam kotak pasir. Ia berlari menemui anak yang sedang bermain tersebut dan bertanya, “Apakah kamu pernah memiliki keinginan untuk bisa terbang?” “Tidak” jawab anak yang pincang. “Tapi aku pernah membayangkan bagaimana rasanya bisa berjalan dan berlari seperti anak-anak lain” sambungnya lagi. “Apakah menurut kamu kita bisa berteman?” tanya anak laki-laki dari panti asuhan. “Tentu”.

Kedua anak laki-laki itu pun bermain bersama selama berjam-jam. Mereka membangun rumah-rumahan pasir dan membuat suara-suara lucu dengan mulut mereka. Suara-suara lucu itu membuat mereka tertawa gembira. Kemudian ayah anak laki-laki yang pincang datang membawa sebuah kursi roda. Anak laki-laki yang ingin terbang tadi mendekati ayah temannya dan membisikkan sesuatu di telinganya. “Baik, silakan” kata sang ayah.

Kemudian ia mendekati temannya yang pincang dan berkata, “Kamu adalah temanku dan aku ingin melakukan sesuatu yang bisa membuatmu berjalan dan berlari seperti anak-anak lain. Sayang sekali aku tidak bisa. Tetapi ada sesuatu yang dapat kulakukan untukmu.”

Anak itu pun menunduk dan menyuruh temannya yang pincang untuk naik ke punggungnya. Setelah itu ia berlari melintasi lapangan rumput. Ia berlari semakin lama semakin cepat sambil menggendong sahabatnya di atas punggungnya. Hembusan angin terasa menerpa wajah kedua anak laki-laki tadi. Ayah si anak yang pincang mulai menangis ketika melihat anaknya merentangkan tangannya dan berkepak-kepak bak burung yang sedang terbang. Dengan suara penuh semangat ia berteriak, “Ayah, aku terbang…”

Ini merupakan kisah nyata dimana Roger Dean Kiser, adalah anak yatim yang menggendong temannya pada punggungnya dan berlari.

Setiap orang memiliki keinginan dan harapan. Tetapi ketika keinginan itu tak terwujud, jangan bersedih. Lakukan apa yang bisa kita lakukan dan berbahagialah. Bersyukur pada Tuhan untuk keberadaan kita, karena keterbatasan bisa mendatangkan kepuasaan. Dan perlu diingat juga, keadaan tidak menentukan kebahagiaan seseorang, sikap hatilah yang menentukan. ^_^

Iklan

5-10% Mahasiswa Baru ITB DO

BANDUNG, (PR).-
Lima sampai sepuluh persen dari setiap angkatan mahasiswa Institut Teknologi Bandung (ITB) drop out pada empat semester awal, mereka tidak lulus tahap persiapan bersama. Ketidakmampuan mahasiswa baru menjalani masa transisi pola belajar di SMA dengan perguruan tinggi, menjadi faktor utama kondisi tersebut.

Hal itu dikatakan Rektor ITB Prof. Akhmaloka, saat ditemui di Gedung Rektorat ITB, Rabu (3/6). Menurut dia, setiap tahunnya ITB menerima tiga ribu mahasiswa baru. Namun, lima sampai sepuluh persen dari jumlah tersebut drop out pada tahap persiapan bersama (TPB). “Jumlah tersebut sebenarnya sudah berkurang dibandingkan sebelumnya,” katanya. Pada TPB, kata Akhmaloka, mahasiswa baru wajib mengikuti 36 SKS selama dua semester. Apabila indeks prestasi (IP) yang didapatkan kurang dari satu, maka mahasiswa tersebut langsung dikeluarkan pada tahun pertama. Namun, bila IP yang didapatkan antara satu dan dua, mahasiswa tersebut diberi kesempatan mengulang selama dua semester lagi.

Akhmaloka mengatakan, ITB sudah melakukan penelitian dan pengamatan terhadap banyaknya mahasiswa baru yang harus dikeluarkan tersebut. Berdasarkan hasil penelitian, faktor utama mahasiswa yang drop out itu bukan karena kurangnya kecerdasan intelektual, tetapi disebabkan ketidakmampuan berinteraksi di kampus. “Ada transisi yang tidak mulus dari SMA ke perguruan tinggi. Misalnya saja si anak di SMA biasanya juara, masuk sini bertemu juara. Kan tidak bisa selamanya juara sehingga akhirnya dia gagal bersosialisasi. Ada juga juara olimpiade di SMA, tetapi di sini keasyikan main komputer atau aktivitas lain sehingga kuliahnya tidak baik,” ujarnya.

Untuk menyikapi kondisi tersebut, ITB melaksanakan program pendidikan kepribadian yang diselipkan di sela-sela TPB. Program tersebut tidak berbentuk tutorial melainkan merupakan ekstrakurikuler yang membantu pengembangan kecerdasan emosi mahasiswa tersebut.

Sementara itu, psikolog perkembangan Ihsana Sabriani Borualogo mengatakan, kondisi tersebut juga banyak dialami mahasiswa yang kuliah di perguruan tinggi lainnya. Dia mengatakan, kegagalan anak dalam menjalani transisi pola belajar dari SMA ke kuliah lebih banyak disebabkan ketidakmampuan dalam beradaptasi. Hal itu bisa semakin parah bila anak tersebut tidak terbiasa mandiri. “Di SMA mungkin dia biasa dicecoki, dibimbing untuk belajar. Namun, saat kuliah kan berbeda. Dia dilepas,” ujarnya di Bandung, Kamis (4/6).

Selain itu, kegagalan masa transisi itu juga bisa disebabkan anak tidak betul-betul mengenali apa tuntutan di perguruan tinggi tersebut. Hal itu bisa disebabkan jurusan yang dipilih tidak sesuai dengan minat dan kemampuannya. “Jadi, disarankan untuk memilih jurusan tidak hanya agar terlihat keren, tetapi berdasarkan minat dan kemampuan calon mahasiswa,” ujarnya.

Ihsana mengatakan, orang tua memiliki peran yang cukup penting dalam membangun kepribadian anak, terutama kemandirian dan kemampuan beradaptasi. “Orang tua harus support luar biasa dan memahami anaknya dengan baik karena mereka sebenarnya yang paling tahu bagaimana kondisi anaknya,” ujar dia. (A-185)***

Sumber : Blog Ikatan ALumni ITB – http://ia-itb.blogspot.com/2010/06/5-10-mahasiswa-baru-itb-do.html