Duo-Publisher

Sudah masuk tahun 2013, namun banyak peristiwa di 2012 yang terlewat untuk saya share. Mengawali tahun 2013, saya coba share kreasi saya dan mas Bowo rekan kerja saya yang kebetulan berkesempatan berkolaborasi sebagai tim publikasi kegiatan di kantor kami. Dengan kemampuan yang terbatas (soalnya ga mahir-mahir amat menggunakan photoshop hehe), kami berdua mencoba mengkreasikan publikasi maupun spanduk/backdrop kegiatan tsb. Berikut saya coba share kreasi kami, siapa tau memberikan ide bagi teman-teman yang sedang membuat desain publikasi.

This slideshow requires JavaScript.

To God Be the Glory

Sepenggal kenangan bermusik bersama Binhot Nababan sewaktu mendiami rumah Lamping semasa kuliah (4 tahun silam). Mencoba merekam dengan equipment seadanya dan memainkan apa adanya. hehe.

Darah Ibu Pertiwi

Darah Ibu Pertiwi (Do=C)

Composed by. Widy Taruko & Patar Sitorus

Sung by. Widy Taruko

Saat kecil teringat menapak t’lanjang kaki
Berlari dengan ringan dikecerian senja
Seolah hidup hanya sehari saja
Mentari esok kan kembali
Seolah dunia tak bersuara
Damainya neg’ri Indonesia

Jalan kecil berlubang iring sawah terbentang
Ramai di kaki bukit berjajar bagai benteng
Pesisir sungai bening air menderu
Bersaing dengan kicau burung
Di dalam hatiku terlukis indah
Tanah neg’riku, neg’ri tercinta Indonesia

Refrain:
Betapa kubersyukur
Darah ibu pertiwi
Mengalir di nadi
Sungguh kucintai

Kuberdoa untukmu
Agar kau tetap setia
Mengalirkan mimpi
Dan juga harapan

Seolah Engkau tak ‘kan berubah
Oleh hempasan zaman
Kutetap bersyukur kar’na mu

Lagu ini bercerita mengenai kenangan seseorang akan masa kecilnya dimana dia sungguh bahagia menikmati indah dan damainya Indonesia. Dia sangat bersyukur karena terlahir sebagai anak Indonesia. Dia sungguh mencintai Ibu Pertiwinya. Dia berharap dan berdoa agar di masa mendatang tanah negerinya terus menjadi tanah indah dan damai yang mengalirkan mimpi dan juga harapan.

Indonesia Baru

Indonesia Baru (Do=A)

Composed & Sung by. Widy Taruko

Indonesiaku
Neg’ri kaya nan elok
Subur makmur tak terukur

Indonesiaku
Gugusan pulau-pulau
Indah memikat memukau

Namun kini langitku tak biru
Hujan badai bergelombang menyapu dan menderu
Berjuanglah dengan tanpa jemu
Yakinlah pasti mampu

Refrain:
Merah putih berkibarlah
Kuberjuang tak lelah
Kuingin Indonesiaku
Kuingin neg’riku maju
Hai muda-mudi bersatu
Indonesia
Indonesia Baru

Yaaa. Hari ini adalah hari peringatan Sumpah Pemuda ke-84. Lagu di atas adalah lagu special yang sengaja dibuat untuk peringatan Sumpah Pemuda hari ini. Lagu ini bercerita tentang Indonesia yang memiliki potensi yang luar biasa dimana Indonesia merupakan negara yang kaya dan indah. Namun sayang, kondisi yang ada pada saat ini, kekayaan dan keindahan itu belum mampu membawa Indonesia menjadi negara yang maju. Banyak “PR” yang mesti kita bereskan. Lagu ini mengajak pemuda dan pemudi untuk mau berjuang dengan tak jemu. Karena saya yakin, dengan semangat yang teguh dan tak kenal lelah, pada akhirnya nanti kita mampu membawa bangsa Indonesia menjadi bangsa yang maju, Indonesia Baru.

Pikulan Pisang

Ah, pagi ini saya sampai di kantor dengan perasaan menyesal. Sewaktu saya menunggu angkot di jalan untuk berangkat ke kantor pagi ini, lewat seorang bapak tua membawa 2 buah keranjang dalam pikulan. Bapak itu sudah tua, berjalan dengan sangat lambat (baca sekali lagi : sangat lambat). Sewaktu bapak tua itu lewat di depan saya, tampak keranjang yang dipikulnya adalah dagangan buah pisang. Selain buah pisang, ada tas plastik/kresek dan neonapacin di dalamnya. Ah, bukannya itu obat sesak nafas pikir saya. Untuk apa, tanya saya dalam hati. Bapak tua itu terus berjalan. Lambat namun pasti langkahnya terus menjauh dari saya. Sekian detik sempat berpikir, kenapa bapak tua itu masih bekerja, sepatutnya saat ini dia menikmati masa tuanya. Hal baik apa yang bisa saya lakukan untuk bapak tua itu. Sempat berpikir, ingin membeli buah pisangnya kemudian membawanya ke kantor untuk teman-teman saya di kantor. Namun situasi terburu-buru berangkat ke kantor dan rasa malas/enggan melangkahkan kaki mengejar si bapak tua walaupun jaraknya hanya beberapa belas meter membuat saya hanya berdiri di tempat melihat si bapak tua terus berjalan pelan menjauhi saya. Di saat saya masih berpikir, angkot pun datang. Saya melangkah menaikinya. Angkot pun berjalan dengan kencang. Ketika jarak sudah cukup jauh dan tidak memungkinkan balik lagi, baru saya berkata dalam hati, saya ingin membelinya, kenapa tidak saya beli buah pisangnya, hal yang sangat simple tapi akan sangat membantu si bapak tua. Ah, Widy, begitu banyaknya pertimbanganmu ketika mau memberi/menolong seseorang. Padahal memberi/menolong itu juga suatu kesempatan. Tidak setiap saat kita punya kesempatan untuk bisa memberi/menolong seseorang. Makanya ketika kesempatan itu datang dan kita mampu memberi, berilah tanpa berpikir a, b, dan c atau bahkan sampai z. Semoga saya bisa belajar akan hal ini.

Ruta’s Hope

ImageRuta’s Hope. Demikianlah saya dan istri menyebutnya. Ruta’s Hope adalah sebuah celengan kodok. Ruta’s Hope merupakan singkatan dari Rudangta & Taruko’s Hope yang berarti harapannya Rudangta & Taruko. Ini merupakan harapan kami. Kami berharap, kami dapat memberikan sesuatu hal yang baik walau kecil untuk Indonesia. Ya, kami coba mengumpulkan sedikit demi sedikit setiap kembalian (uang logam pecahan Rp. 500 dan Rp. 1.000) yang kami dapatkan dari toko maupun ketika kami naik angkot.

Hari minggu kemarin, Ruta’s Hope tidak mampu lagi menampung pecahan uang logam yang ada. Ruta’s Hope penuh dan siap dikeluarkan isi perutnya. Resmilah kami melakukan operasi perut Ruta’s Hope. Lumayan ternyata, Rp. 348.000 keluar dari perut si Ruta’s Hope. Kami sudah punya rencana akan diapakan uang itu. Ya, yang jelas untuk suatu hal yang baik untuk Indonesia.

Tempe dan Cabe Rawit

image

Sore ini, selepas pulang kantor, saya menyempatkan diri untuk jalan-jalan di daerah Pasar Minggu untuk membeli tempe dan cabe rawit. Ya, tempe dan cabe rawit adalah bahan dasar untuk membuat “uleg-uleg”, makanan favorit saya sejak kecil. Bagi yang belum pernah mencicipinya, saya kasih sedikit bocoran, “uleg-uleg” adalah masakan berbahan dasar tempe yang diuleg dengan cabe rawit dan bumbu dasar, rasanya pedes maknyoss.
Ada kejadian menarik ketika saya membeli tempe di Pasar Minggu. Saya bertanya kepada penjualnya, “berapa harga 1 potong panjang tempe ini Bu?” Si penjual menjawab, “Rp. 3.000,-”. Wah, sangat murah menurut saya harga Rp. 3.000,- untuk 1 potong besar tempe berbentuk memanjang, mengingat hari minggu lalu saya baru saja membeli 1 potong kecil tempe seharga Rp. 4.000,- yang ukurannya tidak ada setengah dari tempe yang akan saya beli. Langsung saja saya bayar tempenya tanpa menawar-nawar. Yang menarik, di kala saya mengambil uang Rp. 3.000,- untuk dibayarkan, tiba-tiba datang seorang Ibu hendak membeli tempe juga. Si Ibu langsung menawar kepada si penjual. Dan terjadilah tawar menawar harga. Tidak ada yang salah memang dari peristiwa tersebut. Namun yang menjadi bahan perenungan kita bersama adalah betapa kita sering kali lebih  menyayangi si kaya dari pada si miskin. Kita dapat dengan mudah tanpa pikir panjang membeli sepotong pakaian seharga Rp. 300.000,- di mall. Namun di lain pihak, kita dapat dengan tega menawar habis-habisan barang yang dijual pedagang kecil, yang menjual barangnya dengan harga hanya sekian ribu rupiah. Tak jarang perdebatan rela dilakukan demi menurunkan harga sekian ratus rupiah. Apakah kita bangga ketika dapat membeli tempe atau cabe yang mampu kita tawar dengan harga yang sangat murah? Apakah kita senang ketika pedagang emperan itu hanya mendapat untung kecil ketika barang dagangannya dijual dengan sangat murah? Apakah kita menjadi kaya raya ketika mampu menawar dan berhemat sekian ratus rupiah? Seharusnya, jawabannya adalah tidak.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.528 pengikut lainnya.